4 Macam Norma Dalam Pergaulan Manusia

Norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat terdiri atas banyak sekali macam. Dalam pergaulan hidup insan dikenal adanya banyak sekali penggolongan norma yang sanggup dibedakan atas empat macam norma, yaitu norma kesusilaan, norma kesopanan, norma agama, dan norma hukum. Bagiamana penjelasannya siahkan simak di bawah ini.

Norma Kesusilaan

Ketika seseorang akan berbohong, gotong royong hatinya ingin menyuarakan kebenaran. Apabila menuruti bunyi hati, seseorang akan cenderung bertindak benar dan baik. Seseorang yang berbuat berdasarkan bunyi hati nurani merupakan gambar an orang yang mempertimbangkan norma kesusilaan dalam kehidupannya.

Norma kesusilaan ialah peraturan hidup yang berkenaan dengan bisikan kalbu dan bunyi hati nurani manusia. Kehadiran norma ini bersamaan dengan kelahiran atau keberadaan insan itu sendiri, tanpa melihat jenis kelamin dan suku bangsanya. Suara hati nurani yang dimiliki insan selalu menyampaikan kebenaran dan tidak akan sanggup dibohongi oleh siapa pun.

Suara hati nurani sebagai bunyi kejujuran merupakan bunyi yang akan mengarahkan insan kepada kebaikan. Sebagai contoh, seorang yang mempunyai hati nurani mustahil mengambil dompet seseorang ibu yang jatuh atau tertinggal di tempat umum. Seorang siswa yang mengikuti bunyi hati nurani mustahil menyontek ketika ulangan alasannya tahu menyontek itu perbuatan salah.

Norma kesusilaan sebagai bisikan bunyi hati nurani mempunyai keterkaitan dengan norma agama. Hal itu mengandung arti bahwa fatwa norma agama juga mengandung kaidah kesusilaan, menyerupai ”jaga kehormatan keluargamu, pasti hidupmu akan penuh martabat”.

Norma kesusilaan juga sanggup mempunyai keterkaitan dengan norma hukum, menyerupai ”dilarang menghina
nama baik seseorang”. Seseorang yang menghina orang lain akan dieksekusi pidana, dan secara nilai kemanusiaan ini merupakan pelanggaran kesusilaan.

Norma kesusilaan juga tetapkan perihal sikap yang baik dan yang jelek serta membuat ketertiban dalam hubungan antarmanusia. Karena norma susila berasal dari hati nurani, bagi pelanggar norma kesusilaan akan timbul perasaan penyesalan. Seseorang yang melanggar norma kesusilaan akan mencicipi menyesal alasannya perbuatan salahnya tersebut.

Norma Kesopanan

Norma kesopanan ialah norma yang bekerjasama dengan pergaulan insan dalam kehidupan sehari-hari. Norma kesopanan bersumber dari tata kehidupan atau budaya yang berupa kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam mengatur kehidupan kelompoknya. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai kecenderungan berinteraksi atau bergaul dengan insan lain dalam masyarakat.

Hubungan antarmanusia dalam masyarakat ini membentuk aturan-aturan yang disepakati perihal mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Ada perbuatan yang sopan atau tidak sopan, boleh dilakukan atau tidak dilakukan. Inilah awal mula terbentuk norma kesopanan.

Oleh alasannya norma ini terbentuk atas akad bersama, maka perbuatan atau insiden yang sama memungkinkan terbentuk aturan yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.

Coba perhatikan, dua orang anak kecil yang belum pernah bermain ”A”, melihat teman-temannya yang lebih besar bermain ”A”. Kemudian timbul harapan di antara mereka berdua untuk bermain ”A”. Untuk mewujudkan harapan ini, maka kedua anak ini akan bermain dengan membuat aturan
yang disepakati bersama. Aturan yang dibentuk mungkin sama dengan aturan yang sudah ada, namun juga sanggup berbeda. Bagi kedua anak tersebut aturan yang telah disepakati merupakan benar untuk mereka berdua, walaupun bagi kelompok lain kurang tepat. Contoh tersebut, menggambarkan bagaimana proses terjadi perbedaan norma kesopanan antara masyarakat satu dengan yang lain.

Norma kesopanan dalam masyarakat memuat aturan perihal pergaulan masyarakat, antara lain terlihat dalam tata cara berpakaian, tata cara berbicara, tata cara berperilaku terhadap orang lain, tata cara bertamu ke rumah orang lain, tata cara menyapa orang lain, tata cara makan, dan sebagainya.

Tata cara dalam pergaulan dalam masyarakat yang berlangsung usang dan tetap dipertahankan oleh masyarakat, usang kelamaan menempel secara besar lengan berkuasa dan dirasakan menjadi budbahasa istiadat. Beberapa pendapat jago membedakan antara norma kesopanan dengan kebiasaan dan aturan adat. Kebiasaan
menunjukkan pada perbuatan yang berulang-ulang dalam insiden yang sama, kemudian diterima dan diakui oleh masyarakat. Sedangkan budbahasa istiadat ialah aturan/kebiasaan yang dianggap baik dalam masyarakat tertentu dan dilakukan secara turun temurun.

Salah satu perbedaan kebiasaan dengan budbahasa istiadat ialah kekuatan hukuman pada keduanya. Sanksi terhadap pelanggaran kebiasaan tidak sekuat hukuman pelanggaran terhadap aturan adat. Contoh pulang kampung ketika menjelang perayaan Idul Fitri, Natal, atau hari besar keagamaan lainnya merupakan kebiasaan sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun apabila seseorang suatu ketika pada perayaan tersebut tidak pulang kampung, maka hukuman dari masyarakat tidak sebesar orang yang melanggar aturan budbahasa perihal perkawinan.

Sanksi terhadap pelanggaran norma kesopanan sanggup berupa pengucilan, tidak disenangi, atau dicemoohkan oleh masyarakat. Sanksi berasal dari luar diri seseorang, berbeda dengan norma kesusilaan yang berasal dari diri sendiri. Lemah kuatnya hukuman dari masyarakat dipengaruhi oleh besar lengan berkuasa tidaknya norma kesopanan tersebut dalam masyarakat.

Contoh berjalan di depan orang yang lebih bau tanah harus meminta ijin (permisi). Bagi masyarakat di kawasan pedesaan pelanggaran ini akan mendapat teguran lebih tegas, dibandingkan dalam masyarakat perkotaan.

Norma Agama

Norma agama ialah sekumpulan kaidah atau peraturan hidup insan yang sumbernya dari wahyu Tuhan. Penganut agama meyakini bahwa apa yang diatur dalam norma agama berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, yang disampaikan kepada nabi dan rasul-Nya untuk disebarkan kepada seluruh umat insan di dunia.

Pemahaman akan sumber norma agama yang berasal dari Tuhan membuat insan berusaha mengendalikan sikap dan sikap dalam hidup dan kehidupannya. Setiap insan harus melaksanakan perintah Tuhan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Contoh pelaksanaan norma agama contohnya perintah melaksanakan ibadah sesuai dengan fatwa agamanya. Melanggar norma agama ialah perbuatan dosa sehingga pelaku pelanggarannya akan mendapat hukuman siksaan di neraka.

Norma agama hanya akan dipatuhi oleh orang yang beragama sehingga orang yang atheis (tidak percaya pada Tuhan) tidak akan mentaati dan mempercayai adanya norma agama.

Indonesia bukan negara yang mendasarkan pada satu agama. Namun, negara Indonesia percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana ditegaskan dalam sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal itu juga ditegaskan dalam pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 yang berbunyi ”Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pelaksanaan norma agama dalam masyarakat Indonesia bergantung pada agama yang dianutnya. Norma agama bagi penganut agama Islam bersumber pada al-Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW. Orang yang beragama Kristen dan Kristen pegangan hidupnya bersumber pada Alkitab. Umat Hindu pegangan hidupnya bersumber pada Veda. Tripitaka menjadi kaidah pegangan hidup penganut Buddha. Sementara itu, kitab suci Khonghucu ialah Shishu Wujing.

Norma agama dalam pelaksanaannya tidak hanya mengatur hubungan insan dengan Tuhan, tetapi juga mengatur bagaimana hubungan insan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dilengkapi dengan logika dan pikiran. Dengan logika tersebut insan diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk tidak hanya memanfaatkan alam, tetapi juga harus memelihara serta melestarikannya. Manusia juga dituntut untuk membuat kebaikan dan kebahagiaan dengan sesama manusia. Oleh alasannya itu, dengan pelaksanaan norma agama, akan tercipta kepatuhan insan kepada Tuhan dan keserasian insan dengan sesama dan lingkungannya.

Norma Hukum

Norma aturan ialah peraturan mengenai tingkah laris insan dalam pergaulan masyarakat dan dibentuk oleh badan-badan resmi negara serta bersifat memaksa sehingga perintah dan larangan dalam norma aturan harus ditaati oleh masyarakat. Oleh alasannya itu, dalam kehidupan seharihari pegawapemerintah penegak hukum, menyerupai polisi, jaksa, dan hakim sanggup memaksa seseorang untuk menaati aturan dan memperlihatkan hukuman bagi pelanggar hukum.

Norma aturan juga mengatur kehidupan lainnya, menyerupai larangan melaksanakan tindak kejahatan dan pelanggaran, larangan melaksanakan korupsi, larangan merusak hutan serta kewajiban memelihara hutan, dan kewajiban membayar pajak. Peraturan tersebut harus dilaksanakan oleh seluruh warga negara Indonesia.

Pada hakikatnya, suatu norma aturan dibentuk untuk membuat ketertiban dan kedamaian dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Untuk itulah, setiap norma aturan mempunyai dua macam sifat, yaitu sebagai berikut.

a. Bersifat perintah, yaitu memerintahkan orang berbuat sesuatu dan bila tidak berbuat maka ia akan melanggar norma aturan tersebut.
Contohnya, perintah bagi pengendara kendaraan bermotor untuk mempunyai dan membawa SIM (surat ijin mengemudi). Ketentuan pasal 281 UU Nomor 22 Tahun 2009 perihal Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa ”Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak mempunyai SIM dipidana kurungan paling usang 4 bulan atau denda paling banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah)”.

b. Bersifat larangan, yaitu melarang orang berbuat sesuatu dan bila orang tersebut melaksanakan perbuatan yang dihentikan maka ia melanggar norma aturan tersebut. Contohnya, larangan bagi pengemudi kendaraan bermotor melebihi batas kecepatan paling tinggi yang diperbolehkan dan berbalapan dengan kendaraan bermotor lain (ketentuan pasal 115 UU Nomor 22 Tahun 2009 perihal Lalu Lintasdan Angkutan Jalan).

Negara Indonesia merupakan negara yang melaksanakan norma hukum. Hal itu sanggup kita lihat dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang berbunyi ”Negara Indonesia ialah negara hukum”. Norma aturan mutlak dibutuhkan di suatu negara. Hal itu untuk menjamin ketertiban dalam kehidupan bernegara. Sebagai negara hukum, sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia untuk menegakkan aturan dalam kehidupan sehari-hari.