Ruang Dan Teksture Dalam Seni Rupa

Ruang

Ruang, space, extens or area of ground, surface etc. Artinya, ruang yakni keluasan dari suatu bidang atau permukaan. Dalam Design Elementer disebutkan ruang sanggup dikatakan bentuk dua atau tiga dimensional, bidang atau keluasan. Keluasan positif atau negatif yang dibatasi oleh limit.

Silahkan simak juga : Pengertian Seni Lukis

Berbeda dengan pengertian garis, ruang mempunyai dua dimensi tambahan yaitu lebar dan dalam. Ruang mempunyai gerakan arah dan ciri umum menyerupai halnya: diagonal, horisontal, bergelombang, lurus, melengkung dan lain-lainnya. Guna memperjelas ini, maka batasan utama yakni yang paling sesuai, yaitu ruang yakni keleluasaan dari satu bidang atau permukaan yang mempunyai bentuk dua dimensional.

Tekstur

Pada umumnya para pelukis memanfaatkan tekstur, texture is quality of surface: smooth, rough, slick, grainy, soft, or hard. Kualitas taktil dari suatu permukaan, nilai kesan raba atau berkaitan dengan indra peraba. Suatu struktur penggambaran permukaan objek, seperti. buah-buahan, kulit, rambut, batu, kain, barang elektronik, dan lain sebagainya.

Tekstur sanggup kasar, halus, keras, lunak, berbutir, sanggup juga agresif atau licin, teratur, atau tidak beraturan, sesuai dengan kualitas yang ingin diekspresikan.

Simak juga Aspek Konseptual Dalam Penciptaan Karya Seni Murni

Tekstur dibentuk di atas kanvas, sanggup dengan cat yang dicampur dengan bahan-bahan lain, menyerupai modeling paste, pasir, bubuk marmar, dan lain-lain. Pada umumnya tekstur digunakan tidak semata-mata dari segi teknis, tetapi mengacu kepada substansi lukisan, atau lisan lukisan. Jika nilai lisan merupakan unsur pokok lukisan, maka pemanfaatan tekstur merupakan pendukung pengejawantahan nilai lisan itu sendiri.

Para pelukis memanfaatkan unsur tekstur untuk variasi, fokus atau kesatuan. Kesemuanya itu sanggup terjadi dengan kesengajaan pelukisnya, maupun alasannya yakni sifat dari media yang digunakan dikala melukis.

Dalam kaitannya dengan para pelukis formalis, maka fungsi teksur sanggup berubah sebagai unsur yang
berdiri sendiri, artinya tidak ada kaitannya dengan tujuan eksternal tertentu. Bagi mereka, penggarapan tekstur semata-mata untuk mencapai efek estetis dalam kesatuan lukisan. Lihat pada lukisan Ahmad Sadali (Gambar 1), yang memakai tekstur faktual dengan latar pewarnaan yang kelam, lalu diberi penekanan warna-warna emas.

Sedangkan pada Gambar 2, Fajar Sidik menyajikan latar warna cerah merah dengan menyajikan bentukbentuk lingkaran, segitiga, trapesium dan lain-lain. Bentuk-bentuk itu diisi dengan warna merah, hijau tua, biru laut, hijau muda, merah jambu, oranye dan kuning gading.

Fajar Sidik berusaha menggabungkan peralihan bentuk dengan warna komplementer merah-hijau
dalam intensitas warna yang berlainan. Efek pengisian warna pada motif berwarna gelap menghasilkan garis yang tegas di sekeliling motif tadi. Hal ini menyebabkan efek ritmis yang dinamis nyaris di seluruh bidang kanvas. Bentuk dan warna bulan sabit tampil sebagai keunikan lukisan (singular sign).

Jika seseorang mengamati permukaan lukisan dan menerima kesan kasar, lalu meraba lukisan tersebut benar-benar juga kasar. Sebaliknya, kesan pengamatan memberi kesan halus, dikala diraba juga halus, maka jenis tekstur menyerupai itu disebut tekstur nyata, actual texture, alasannya yakni antara hasil pengamatan dengan kenyataan mempunyai kualitas yang sama.

Jika seseorang menerima kesan agresif pada pengamatan permukaan objek lukisan, sementara hasil perabaannya bantu-membantu halus, atau kesan pengamatan halus dan kesan raba kasar, maka jenis tekstur menyerupai ini disebut tekstur semu, simulated texture or synthetic texture, alasannya yakni antara hasil pengamatan dengan kenyataan bantu-membantu tidak sama melainkan berbeda alias tidak nyata. Biasanya tekstur menyerupai ini dihasilkan dari efek permainan warna, pola, nada, dan garis.